Archive for July, 2012

Recognisi Krisis TAHU TEMPE

Menghadapi krisis TAHU TEMPE – KEDELE IMPOR kali ini, yang menjadi pertanyaan besar saya adalah: 

  1. Sejak kapan impor kedele melebihi produksi nasional berlangsung?
  2. Siapa yang diuntungkan dengan harga kedele yang tinggi?
  3. Seberapa besar potensi produktivitas kedele di negeri TROPIKA?
  4. Apakah kedele dapat mengungguli tanaman lain sesuai dengan keinginan PETANI?
  5. Terakhir, benarkah Indonesia masih layak disebut negeri AGRARIS?

Ya, pertanyaan-pertanyaan itu telah ada sejak tahun 2000an, ketika saya mulai mau mempelajari data dari FAO tentang Populasi Pertanian dan Neraca Komoditas Indonesia, diproyeksikan dengan perkembangan “lahan” pertaniannya. Sayang bahwa jawaban dari kelima pertanyaan itu, adalah NEGATIF.

Saya cukup mengulas pertanyaan pertama saja yang baru hari ini (28 Juli 2012) terjawab. Impor kedele cukup besar terjadi sejak tahun 1997 dengan volume 600,000 ton sedang kala itu produksi kedele nasional kita sekitar 1,5 juta ton. Alasannya cukup jelas, pada waktu itu peternakan sedang maju-majunya dan kedele impor memang sangat layak menjadi pakan, bukan untuk industri pangan. Namun sayang produksi kedele nasional kita terus merosot, sehingga kebutuhan kedele untuk “pangan” menjadi tidak terpenuhi lagi oleh kedele produksi sendiri. Maka impor terus menjadi-jadi, dalam rangka memenuhi kebutuhan kedele  untuk industri pangan. Bahan Pakan telah terkonversi menjadi bahan pangan, sampai ‘ampas tahunya’ jadi bahan TEMPE GEMBUS. Bahkan kemudahan-kemudahan terus-menerus semakin diperoleh para importir. Sesungguhnya hanya menguntungkan negara-negara eksportir dan memudahkan orang perkotaan memperoleh bahan baku TAHU TEMPE.

Sepuluh besar produsen kedele dunia hingga sekarang tetap dipegang oleh 5 negara dengan urutan : Amerika Serikat, Argentina, Brasilia, China, India, Paraguay, Canada, Uruguay, Ukraina dan Bolivia. Dari kesepuluh produsen itu, terlihat jelas hanya Brasilia dan India yang TROPIKA. Lalu China dan India tidak berbuat banyak dalam kancah perdagangan kedele dunia. Brasilia dan Argentina konon lebih memproyeksikan produk kedelenya untuk kebutuhan non-pangan. Maka Amerikalah yang jadi kampiun eksportir kedele. Sayang bahwa di AS kedele juga mulai ditujukan untuk kebutuhan-kebutuhan substitusi non-pangan. Maka ketika panen kedele di AS “bubruk’ membumbunglah harga kedele impor Indonesia. Tapi ketika harga menjadi murah lagi, siapakah yang untung dengan kedele IMPOR? Tetap saja para importir dan para pengusaha TAHU TEMPE. Penanam kedele? Tetap saja tidak dapat menikmati keuntungan lagi. Tanah mereka terlalu sempit..:-(

Jangan-jangan ada skenario lain. Agar kedele transgenik masuk ke Indonesia. Transgenik tahan herbisida, transgenik produsen insektisida nabati…. Lalu kembali lagi perbenihan kedele jadi dikendalikan oleh MNC.

Maka menganalogikan opini dosen biologi, Dr Joko Waluyo, kenyataan inilah yang harus kita rekognisi. Beliau pernah menyatakan pendapatnya ketika menyantap sekerat singkong rebus dan sepotong pisang-kepok rebus di Parung Farm: “Pak, dengan saya memakan sekerat singkong dan sejari pisang ini, berarti saya telah memberi ‘keuntungan’ kepada petani (penanam) kedua macam produk ini di INDONESIA. Beda kalau saya makan sebungkus MIE INSTANT, maka yang saya beri keuntungan ternyata PENANAM GANDUM di Amerika sana….he he he he”. Begitu pula sekarang…. jika saya makan sekerat TAHU atau TEMPE di JABODETABEK yang bahannya kedele IMPOR, maka saya telah memberi keuntungan kepada penanam KEDELE di Amerika sana…

Tentang jawaban pertanyaan-pertanyaan yang  lain, tak perlu saya uraikan. Cukup simpulan saja. Bahwa mengusahakan kedele di negeri tropika sangatlah berat. Pertama, mau tidak mau secara saintifik harus kita pahami bahwa KEDELE nenek-moyangnya bukanlah tanaman TROPIKA. Olehnya itu, produktivitasnya tentu sulit mengimbangi produktivitas KEDELE yang diproduksi di wilayah SUBTROPIKA sampai TEMPERATE. Kecuali ada rekayasa “memasukkan” gen TROPIKA ke dalam KEDELE-KEDELE rakitan INDONESIA. Tantangan serius bagi para pemulia KEDELE.

Kedua, ini akibat dari fakta pertama, KEDELE dengan produktivitas rendah, sulit menandingi tanaman-tanaman konvensional, apalagi jika ditanam dengan luasan lahan yang kurang dari 300 meter persegi… Kalau mau harganya yang harus tinggi. Tetapi jika harga tinggi, perajin TAHU TEMPE demo lagi… hicks-hicks-hicks… [ada informasi INDIA dengan potensi produktivitas nasional 2.7 ton per hektar di skala penelitian, ternyata hanya mampu menghasilkan 0.7 - 1.5 ton er hektar di tingkat petani; maka pemerintah federal INDIA berusaha keras menyatukan seluruh jejaring kepentingan akan KEDELE di seluruh negeri... dan itu pun sampai sekarang belum berhasil, meskipun INDIA termasuk negeri penghasil KEDELE lima besar DUNIA....(karena luasan lahannya masih besar)]

Ketiga, dalam produksi kedele, maka PERBENIHAN merupakan pembatas utama. Sudahkah INDONESIA mampu menyediakan benih kedele secara luas-luasan (bukan besar-besaran) dalam waktu singkat, sehingga penanaman dapat serempak? Paling tidak dengan masa panen yang tidak bersamaan dengan PANEN di negara-negara belahan bumi Utara. Agar kedele produksi dalam negeri dapat mengalir ke pasar tanpa hambatan kedele IMPOR.

Nah, berat bukan? Jadi sebaiknya kita terima dan maklumi terlebih dulu, bahwa negeri ini memang dalam keadaan KRISIS. Sebutan Agraris mungkin sudah tidak tepat lagi, karena PERTANIAN RAKYAT bukan lagi penentu kekuatan perekonomian negara. Justru negara-negara dengan populasi petani sedikitlah yang kekuatan taninya super hebat, seperti Amerika Serikat. Dengan populasi petani hanya 2% kurang mampu mengekspor bahan pangan ke berbagai negara…. Jangan-jangan perlu perubahan paradigma ke-AGRARIS-an….:-)

Yang jelas di Jawa tidak harus kedele yang ditempe. Biji kara pedang (kara benguk – Mucuna pruriens cukup enak ditempe dan disantap sebagai teman minum kopi. Kopinya kopi luwak lagi…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda berkenan membantu keberlangsungan dan pengembangan Weblog ini? Mari silakan bergabung bersama kami menjadi member (distributor) PT Melia Nature Indonesia, via www.kdpbiz.com/?page_id=217

 

AGH442
Tanaman Buah (AGH442) adalah mata kuliah "pilihan dalam departemen" Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Winarso D Widodo, Roedhy Poerwanto, Ketty Suketi, Adiwirman, Ani Kurniawati.
Login Status

    You are not currently logged in.

    Username

    Password

free counters
Dahsyat
Bagaimana mengubah pergaulan menjadi asset dan MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Mari segera bergabung...!!!