Recognisi Krisis TAHU TEMPE

Menghadapi krisis TAHU TEMPE – KEDELE IMPOR kali ini, yang menjadi pertanyaan besar saya adalah: 

  1. Sejak kapan impor kedele melebihi produksi nasional berlangsung?
  2. Siapa yang diuntungkan dengan harga kedele yang tinggi?
  3. Seberapa besar potensi produktivitas kedele di negeri TROPIKA?
  4. Apakah kedele dapat mengungguli tanaman lain sesuai dengan keinginan PETANI?
  5. Terakhir, benarkah Indonesia masih layak disebut negeri AGRARIS?

Ya, pertanyaan-pertanyaan itu telah ada sejak tahun 2000an, ketika saya mulai mau mempelajari data dari FAO tentang Populasi Pertanian dan Neraca Komoditas Indonesia, diproyeksikan dengan perkembangan “lahan” pertaniannya. Sayang bahwa jawaban dari kelima pertanyaan itu, adalah NEGATIF.

Saya cukup mengulas pertanyaan pertama saja yang baru hari ini (28 Juli 2012) terjawab. Impor kedele cukup besar terjadi sejak tahun 1997 dengan volume 600,000 ton sedang kala itu produksi kedele nasional kita sekitar 1,5 juta ton. Alasannya cukup jelas, pada waktu itu peternakan sedang maju-majunya dan kedele impor memang sangat layak menjadi pakan, bukan untuk industri pangan. Namun sayang produksi kedele nasional kita terus merosot, sehingga kebutuhan kedele untuk “pangan” menjadi tidak terpenuhi lagi oleh kedele produksi sendiri. Maka impor terus menjadi-jadi, dalam rangka memenuhi kebutuhan kedele  untuk industri pangan. Bahan Pakan telah terkonversi menjadi bahan pangan, sampai ‘ampas tahunya’ jadi bahan TEMPE GEMBUS. Bahkan kemudahan-kemudahan terus-menerus semakin diperoleh para importir. Sesungguhnya hanya menguntungkan negara-negara eksportir dan memudahkan orang perkotaan memperoleh bahan baku TAHU TEMPE.

Sepuluh besar produsen kedele dunia hingga sekarang tetap dipegang oleh 5 negara dengan urutan : Amerika Serikat, Argentina, Brasilia, China, India, Paraguay, Canada, Uruguay, Ukraina dan Bolivia. Dari kesepuluh produsen itu, terlihat jelas hanya Brasilia dan India yang TROPIKA. Lalu China dan India tidak berbuat banyak dalam kancah perdagangan kedele dunia. Brasilia dan Argentina konon lebih memproyeksikan produk kedelenya untuk kebutuhan non-pangan. Maka Amerikalah yang jadi kampiun eksportir kedele. Sayang bahwa di AS kedele juga mulai ditujukan untuk kebutuhan-kebutuhan substitusi non-pangan. Maka ketika panen kedele di AS “bubruk’ membumbunglah harga kedele impor Indonesia. Tapi ketika harga menjadi murah lagi, siapakah yang untung dengan kedele IMPOR? Tetap saja para importir dan para pengusaha TAHU TEMPE. Penanam kedele? Tetap saja tidak dapat menikmati keuntungan lagi. Tanah mereka terlalu sempit..:-(

Jangan-jangan ada skenario lain. Agar kedele transgenik masuk ke Indonesia. Transgenik tahan herbisida, transgenik produsen insektisida nabati…. Lalu kembali lagi perbenihan kedele jadi dikendalikan oleh MNC.

Maka menganalogikan opini dosen biologi, Dr Joko Waluyo, kenyataan inilah yang harus kita rekognisi. Beliau pernah menyatakan pendapatnya ketika menyantap sekerat singkong rebus dan sepotong pisang-kepok rebus di Parung Farm: “Pak, dengan saya memakan sekerat singkong dan sejari pisang ini, berarti saya telah memberi ‘keuntungan’ kepada petani (penanam) kedua macam produk ini di INDONESIA. Beda kalau saya makan sebungkus MIE INSTANT, maka yang saya beri keuntungan ternyata PENANAM GANDUM di Amerika sana….he he he he”. Begitu pula sekarang…. jika saya makan sekerat TAHU atau TEMPE di JABODETABEK yang bahannya kedele IMPOR, maka saya telah memberi keuntungan kepada penanam KEDELE di Amerika sana…

Tentang jawaban pertanyaan-pertanyaan yang  lain, tak perlu saya uraikan. Cukup simpulan saja. Bahwa mengusahakan kedele di negeri tropika sangatlah berat. Pertama, mau tidak mau secara saintifik harus kita pahami bahwa KEDELE nenek-moyangnya bukanlah tanaman TROPIKA. Olehnya itu, produktivitasnya tentu sulit mengimbangi produktivitas KEDELE yang diproduksi di wilayah SUBTROPIKA sampai TEMPERATE. Kecuali ada rekayasa “memasukkan” gen TROPIKA ke dalam KEDELE-KEDELE rakitan INDONESIA. Tantangan serius bagi para pemulia KEDELE.

Kedua, ini akibat dari fakta pertama, KEDELE dengan produktivitas rendah, sulit menandingi tanaman-tanaman konvensional, apalagi jika ditanam dengan luasan lahan yang kurang dari 300 meter persegi… Kalau mau harganya yang harus tinggi. Tetapi jika harga tinggi, perajin TAHU TEMPE demo lagi… hicks-hicks-hicks… [ada informasi INDIA dengan potensi produktivitas nasional 2.7 ton per hektar di skala penelitian, ternyata hanya mampu menghasilkan 0.7 - 1.5 ton er hektar di tingkat petani; maka pemerintah federal INDIA berusaha keras menyatukan seluruh jejaring kepentingan akan KEDELE di seluruh negeri... dan itu pun sampai sekarang belum berhasil, meskipun INDIA termasuk negeri penghasil KEDELE lima besar DUNIA....(karena luasan lahannya masih besar)]

Ketiga, dalam produksi kedele, maka PERBENIHAN merupakan pembatas utama. Sudahkah INDONESIA mampu menyediakan benih kedele secara luas-luasan (bukan besar-besaran) dalam waktu singkat, sehingga penanaman dapat serempak? Paling tidak dengan masa panen yang tidak bersamaan dengan PANEN di negara-negara belahan bumi Utara. Agar kedele produksi dalam negeri dapat mengalir ke pasar tanpa hambatan kedele IMPOR.

Nah, berat bukan? Jadi sebaiknya kita terima dan maklumi terlebih dulu, bahwa negeri ini memang dalam keadaan KRISIS. Sebutan Agraris mungkin sudah tidak tepat lagi, karena PERTANIAN RAKYAT bukan lagi penentu kekuatan perekonomian negara. Justru negara-negara dengan populasi petani sedikitlah yang kekuatan taninya super hebat, seperti Amerika Serikat. Dengan populasi petani hanya 2% kurang mampu mengekspor bahan pangan ke berbagai negara…. Jangan-jangan perlu perubahan paradigma ke-AGRARIS-an….:-)

Yang jelas di Jawa tidak harus kedele yang ditempe. Biji kara pedang (kara benguk – Mucuna pruriens cukup enak ditempe dan disantap sebagai teman minum kopi. Kopinya kopi luwak lagi…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anda berkenan membantu keberlangsungan dan pengembangan Weblog ini? Mari silakan bergabung bersama kami menjadi member (distributor) PT Melia Nature Indonesia, via www.kdpbiz.com/?page_id=217

 

Metaxenia Pepaya IPB 9

Studi Metaxenia pada Buah Pepaya Genotipe IPB 9 (Metaxenia Studies on Papaya Genotype IPB 9).

Winarso D. Widodo, Sriani Sujiprihati, Nurul Febrianti

Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian – IPB. Jl. Meranti Kampus IPB Darmaga Bogor 16680. e-mail korespondensi: wd_widodo@yahoo.com. [disampaikan pada: Seminar Nasional Hortikultura Indonesia 2010, Denpasar - Bali pada tanggal 25 - 26 November 2010]

ABSTRAK. Percobaan lapangan dari penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Institut Pertanian Bogor, Tajur pada bulan Oktober 2009 sampai Maret 2010. Dalam percobaan ini digunakan bunga hermafrodit pepaya genotipe IPB 9 sebagai induk betina dan bunga hermafrodit genotipe IPB 1, 3 IPB, dan IPB 4 sebagai penyerbuk. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh metaxenia pada pepaya. Bunga tanaman induk betina diserbuki dengan serbuk sari sendiri dan dengan serbuk sari penyerbuk untuk membentuk buah. Fenomena metaxenia dianalisis dengan mengukur kualitas fisik dan kimia dari buah matang hasil keempat macam penyerbukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dari peubah-peubah yang diamati pada semua buah hasil perlakuan penyerbukan, yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh metaxenia pada buah papaya genotipe IPB 9, jika hanya mengandalkan peubah-peubah yang diukur secara kuantitatif. Fenomena metaxenia terlihat pada permukaan kulit buah dan warna daging buah (mesofil). Selain itu terlihat bahwa pangkal buah hasil penyerbukan sendiri cenderung mendatar sedang pangkal buah pada buah hasil penyerbukan dengan serbuk sari lain cenderung meruncing.

Kata-kata Kunci: penyerbuk, serbuk sari, Genotipe IPB 9, Pepaya, kualitas fisik, kualitas kimia

Unduh PDF Presentasi: slide presentasi metaxeniaPepayaIPB9

     

bantu kami meneliti lebih lanjut?


Modul #3: Pertumbuhan Pohon

Modul #3 membahas tentang pertumbuhan dan perkembangan pohon buah-buahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi baik internal dan eksternal dijelaskan. Pengaturan pertumbuhan internal juga dibahas dalam modul ini.

Manuskrip modul sedang dipersiapkan.

Mengunduh file PDF Hand Out Modul #3: modul 3: Pertumbuhan Pohon (Klik kanan lalu pilih “Save As…”)

Siksaan Pembungaan

Pak Professor Iswandi yg penuh Perhatian,

Perbolehkan saya menjawab dengan versi Pawitan yg mengendepankan kesedehanaan dalam berfikir dan bertindak (ceeillaah!! ) Rasanya “siksa menyiksa” fdi dunia Fana ini sudah menjadi sunnatullah bagi semua mahluknya. Kalo didalam Budha/Hindu ada Karma dan Asa.
Begitu juga dalam pepatah minang : berakit rakit ke hulu, berenang ketepian, beresakit dahulu, bersenang kemudian. Pohon buah yang sudah besar dan sulit berbuah,,maka jaman dulu(sekarang lebih lebih yaw) digores-gores batangnya dan waktu gerhana juga di pukul2 batang pohonnya, dan itu juga ‘siksaan” kalo kita mau mellihatnya sebagai siksaan. Tapi ada juga sudut pandang yang mengatakan itu ‘membangkitkan’ potensi. Kalau Apel atau Anggur dan banyak tanaman juga harus di prunning/pangkas, supaya segera mengeluarkan tunas baru (dipandang sebagai usaha regenerasi karena ‘induknya tersiksa’) dan ditunas barulah itu ada calon buah yg mengandung ‘keturunan” alias biji untuk regenerasinya. Read the rest of this entry »

Belimbing Depok

Konon Belimbing Depok ini merupakan “pindahan” dari belimbing Demak. Konon pula di Demak pertanaman belimbing telah berganti dengan Jambu Air. Kapan-kapan kalau ketemu jambu air Demak, akan difoto dan di muat dalam blog ini.

Penampilan belimbing Depok sangat menggiurkan, terutama ukurannya yang besar. Kekuarangannya adalah pada warna kulit bagian ‘proximal’ (pangkal buah) agak pucat. Seandainya warna dapat merata pucat seluruhnya atau kuning-gambir seluruhnya barangkali lebih menarik. Satu peluang penelitian untuk pewarnaan belimbing ini, misalnya dengan degreening menggunakan ethylene. Ada yang berminat?

Menantang bukan? Karena belimbing bukan buah klimakterik, yang artinya tidak dapat diperam. Panen harus dilakukan pada saat full-ripe untuk mendapatkan buah dengan rasa paling prima. Jika belum full-ripe, maka rasa sepet-nya kuat, dan jika over-ripe akan timbul aroma “buah menjelang busuk”. Pertanyaannya, jika bisa dilakukan degreening dengan ethylene, apakah akan mempengaruhi rasa dan aromanya? Mari-mari silakan diuji.

Pengujian degreening sangat menantang. Waktu pengujian juga tidak lama-lama amat. Paling sehari-semalam, sudah dapat diukur perubahan warnanya. Kemudian uji laboratorium untuk kandungan zat-zat penting dalam buah matang, seperti tingkat padatan terlarut total (PTT), asam tertitrasi total (ATT) dan vitamin C. Khusus untuk belimbing, perlu juga diuji tekstur dagingnya dan kemudahan dibelah ‘sayapnya’ untuk dikeluarkan bijinya.

Selain tantangan perlakuan pascapanen, buah belimbing ini juga menggelitik untuk diuji kekuatan distribusinya. Kemasan adalah salah satu faktor yang perlu diuji. Dan jangan lupa, budidayanya perlu dikaji pula. Untuk itu, bagi yang tahu budidaya Belimbing, silakan menuliskannya ke blog kita ini, dengan mengirimkannya dalam bentuk e-mail ke denggleng@yahoo.com.

Salam Pomologi  Tropika !!!

 
Want to read in your own language? Please install
Click to install Google Tolbar

on your browser

Weblog Palanjana

Weblog Palanjana dibangun untuk dijadikan sarana pelengkap kuliah Tanaman Buah (AGH442) yang diselenggarakan oleh Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tujuan dari dibangunnya blog ini adalah untuk menambah wawasan mahasiswa dan menjadi sarana komunikasi efektif dan efisien untuk para pengajar dan mahasiswa tentang Tanaman Buah yang dalam bahasa asing dikenal dengan cabang ilmu POMOLOGY dari disiplin Horticultural Science.

Nama weblog diambil dari bahasa Kawi (Sankrit yang dijawakan), Pala (berarti buah) dan Jnana (berarti pengetahuan), yang untuk memudahkan pembacaannya diubah menjadi PALANJANA. Muatan dan isi blog ini akan terus disempurnakan dan ditambah dengan links maupun isi dan downloadable files.

Bagi pengunjung yang bukan mahasiswa IPB, silakan pergunakan blog kami ini dengan sebaik-baiknya. Mudah-mudahan banyak manfaat yang dapat kita peroleh demi kemajuan dan kejayaan Pomologi Indonesia. Bagi yang tertarik untuk berdiskusi tentang buah-buahan silakan bergabung di milis kami:
Tanaman Buah (AGH442) di http://groups.yahoo.com/group/agh442/join.

Salam Pomologi, dari Bogor!

Penanggung Jawab:

S3 Okayama Univ Horticulture: Pomology - Viticulture

Dosen:
S3 Ehime Univ Horticultural Science  S2 IPB Fisiologi Tanaman - Pomologi   S3 UPM Pomology

Pendahuluan Kuliah & Praktikum

Kuliah Tanaman Buah (AGH442) bagi sebagian mahasiswa semester 7 tahun akademik 2010/2011, Depatemen Agronomi dan Hortikultura, Faperta IPB secara resmi dimulai Hari Rabu, 25 Agustus 2010. Permulaan kuliah ditandai dengan Kontrak Perkuliahan dan Kontrak Praktikum yang ditanda-tangani oleh Penanggung Jawab Mata Kuliah dan Wakil Mahasiswa.

Untuk lebih jelasnya, silakan unduh kontrak perkuliahan berikut.

Unduh File Kontrak Perkuliahan 2010 (123 KB) [klik kanan lalu Save Target As...]

Slide-slide penjelasan Kontrak Kuliah dan Praktikum dapat diunduh di:

  1. Unduh PDF pendahuluan Kuliah 2010 [klik kanan lalu pilih "Save Target As.."]
  2. Unduh PDF pendahuluan-praktikum-2010 [klik kanan lalu pilih "Save Target As.."]

Silakan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

AGH442
Tanaman Buah (AGH442) adalah mata kuliah "pilihan dalam departemen" Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Winarso D Widodo, Roedhy Poerwanto, Ketty Suketi, Adiwirman, Ani Kurniawati.
Login Status

    You are not currently logged in.

    Username

    Password

free counters
Dahsyat
Bagaimana mengubah pergaulan menjadi asset dan MESIN UANG yang MEMATIKAN !! Mari segera bergabung...!!!